Industri pertambangan selama beberapa dekade dikenal sebagai industri yang kontroversial. Bencana lingkungan dan sosial banyak mewarnai industri ini di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Tidak mengherankan apabila pemangku kepentingan terus menyoroti isu-isu yang melekat dengan industri ini.
Pada industri ini sendiri telah terjadi pergeseran-pergeseran yang signifikan. Kalau di dekade 1960-an hingga 1970-an industri tambang tampak hanya berbenah seadanya setelah ada kejadian-kejadian buruk yang merugikan lingkungan dan masyarakat, pada dua dekade berikutnya antisipasi kejadian buruk sudah banyak dilakukan—walau, tentu saja, hal itu belum benar-benar merata dilakukan oleh seluruh perusahaan tambang.
Pergantian alat menunjukkan perubahan yang semakin kuat. Industri pertambangan kian menyadari bahwa untuk bisa diterima oleh masyarakat luas, mereka perlu meminimalkan dampak negatif dan memaksimalkan dampak positifnya. Tema itu sangat dominan hingga penghujung dekade 2010-an. Kini, ekspektasinya semakin tinggi: bagaimana industri pertambangan benar-benar berkontribusi terhadap pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) sekaligus mengantarkan dunia pada masa depan yang rendah karbon dan regeneratif. Masa depan yang berkelanjutan jelas akan ditopang oleh produk-produk industri pertambangan yang dihasilkan lewat cara-cara yang bertanggung jawab sosial.
Portal RESPONSIBLEMINING.ID ini dibuat untuk mengawal ekspektasi pemangku kepentingan tersebut. Perkembangan ilmu pengetahuan, standar, dan kejadian-kejadian yang relevan dengan peran penting sektor pertambangan dalam pembangunan berkelanjutan akan disajikan dalam beragam rubrik di portal ini.
Kami takkan pernah lupa dengan salah satu pernyataan Prof. Dr. Ir. Otto Soemarwoto yang menjadi landasan kami berpijak dan melangkah: “Jika kita tidak setuju penambangan dan tidak munafik, janganlah memanfaatkan segala jenis hasil industri yang menggunakan bahan tambang. Jadi, jangan gunakan listrik,… juga jangan menggunakan mobil, kereta api dan pesawat terbang. Jelas, tak mungkin tak menggunakan hasil pertambangan. Jadi, pertanyaannya bukan setuju atau tidak setuju pertambangan, melainkan bagaimana cara menambang agar dapat tercapai pembangunan berkelanjutan.”
Harapan kami, seluruh kebutuhan pengetahuan tentang tanggung jawab sosial dan keberlanjutan sektor ini bisa tersedia secara lengkap bagi perusahaan tambang dan seluruh pemangku kepentingannya, termasuk dan terutama para Milenial dan Gen Z yang akan berperan penting dalam menentukan nasib sektor pertambangan di Indonesia.